MOROTAI, Jhazirah — Morotai Timur pagi itu terasa berbeda. Ribuan warga berbondong-bondong datang, wajah-wajah penuh harap dan senyum menunggu satu sosok: Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan resmi, tetapi membawa kehangatan, kepedulian, dan rasa kebersamaan yang jarang terlupakan.
Agenda awal adalah peresmian Gereja Eben Haezer, sebuah momen penting bagi umat Kristen setempat. Namun kehadiran gubernur mengubah acara tersebut menjadi lebih luas—sebuah perayaan kebersamaan lintas iman. Melalui Gebyar Pasar Murah, pemerintah provinsi menyalurkan 2.000 paket sembako kepada warga di Desa Boho-Buho, Hino, Seselijaya, dan Lifao.
Kepala Disperindag Maluku Utara, Yudhitiya Wahab, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. “Bantuan ini bukan sekadar sembako, tetapi pesan bahwa pemerintah hadir dan peduli,” ujarnya.
Di antara kerumunan, Erasmus Rakomole, warga Desa Hino sekaligus koordinator pembagian bantuan, tampak tak menyembunyikan rasa harunya.
“Ibu Gubernur datang bukan hanya membawa bantuan, tapi juga menyempatkan diri hadir dalam peresmian gereja. Ini perhatian yang sangat berarti bagi kami,” katanya.
Yang paling mengesankan, kata Erasmus, adalah kebersamaan yang tercipta. Warga dari desa tetangga, termasuk masyarakat Muslim, ikut hadir dan menerima bantuan. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan—semua berkumpul dalam satu suasana persaudaraan.
“Ini bukti bahwa kita satu keluarga,” ujarnya lantang. “Beginilah cara membangun Morotai yang damai.”
Hari itu, Morotai Timur tidak hanya meresmikan sebuah gereja atau membagikan sembako. Ia merayakan persatuan. Dan di tengah keramaian, kehadiran Gubernur Sherly Tjoanda menjadi simbol bahwa kepemimpinan yang dekat dengan rakyat mampu menghadirkan kebahagiaan yang sederhana, namun bermakna.



















