Oleh: Suprianto Nasir (Pegiat Media Online)
Di sebuah provinsi yang menyimpan paradoks antara kekayaan sumber daya dan ketimpangan sosial, nama Sherly Tjoanda Laos mencuat sebagai simbol harapan baru. Sosok perempuan yang kini berada di pucuk kepemimpinan Maluku Utara itu bukan hanya membawa gelar politik—ia membawa harapan, keberanian, dan komitmen yang lahir dari pengalaman hidup yang membentuknya.
Maluku Utara, dengan segala pesonanya, menyimpan realitas pahit: ketimpangan yang menganga, layanan dasar yang belum merata, hingga praktik-praktik lama yang membuat sebagian masyarakat merasa jauh dari sentuhan pembangunan. Di tengah pusaran itu, hadir seorang pemimpin perempuan yang memutuskan untuk tidak menunggu angin baik, melainkan menakhodai kapalnya sendiri.
Akar yang Membentuk Kepemimpinan
Serly bukan lahir dari ruang yang serba nyaman. Masa kecilnya diwarnai pengalaman melihat orang-orang terdekatnya berjuang untuk pendidikan, kesehatan, dan kesempatan hidup yang layak. Di situlah, determinasi itu tumbuh.
Ia memahami denyut masyarakat bukan dari laporan meja birokrasi, tetapi dari perjalanan hidup yang menempanya. Karena itu, ketika ia berbicara tentang keadilan dan kesetaraan, kata-katanya bukan sekadar retorika kampanye—melainkan bagian dari identitasnya sebagai seorang perempuan Maluku Utara.
“Saya ingin Maluku Utara menjadi provinsi yang adil dan sejahtera. Semua orang harus memiliki kesempatan yang sama untuk meraih impiannya.”
Demikian tekad Sherly, yang berulang kali ia tegaskan dalam berbagai forum.
Menerjang Tantangan yang Mengakar
Namun, menjadi gubernur di provinsi dengan persoalan struktural yang kompleks tentu tidak mudah. Serly harus berhadapan dengan:
• Infrastruktur yang timpang
• Kualitas SDM yang belum memadai
• Orientasi pembangunan yang lama
• Hingga bayang-bayang praktik korupsi yang masih disorot publik
Di balik layar pemerintahan, ia juga menghadapi resistensi dari kelompok-kelompok yang lebih nyaman dengan status quo. Tetapi Serly tidak memilih jalan kompromi dengan stagnasi. Ia memilih jalan terjal: membongkar ketidakadilan, satu per satu.
Gebrakan dari Sektor ke Sektor
Kepemimpinannya mulai terlihat dari sejumlah program yang menempatkan masyarakat kecil sebagai prioritas:
• Pendidikan: peningkatan anggaran beasiswa dan penguatan pelatihan guru.
• Kesehatan: pembangunan fasilitas layanan hingga ke wilayah yang selama ini kurang tersentuh.
• Ekonomi: dukungan serius untuk UMKM dan investasi berkelanjutan yang berpihak pada masyarakat.
Gebrakan ini menunjukkan satu hal: Serly ingin pembangunan tidak hanya dirasakan oleh elite, tetapi oleh semua lapisan masyarakat.
Pemberdayaan Perempuan: Agenda yang Tak Ditinggalkan
Di tengah perannya sebagai gubernur, Serly tetap menjadi suara penting bagi kesetaraan gender. Ia membuka ruang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan, baik sebagai pengambil kebijakan maupun penggerak ekonomi.
“Perempuan adalah agen perubahan. Mereka harus hadir sebagai bagian dari pembangunan, bukan hanya penonton.”
Di provinsi yang masih kuat dengan budaya patriarki, langkah ini bukan hanya progresif—tetapi transformatif.
Kritik, Serangan, dan Konsistensi
Tidak ada pemimpin tanpa kritik. Serly pun tidak kebal dari serangan politik maupun opini publik. Namun, ia memilih menjawabnya dengan kerja, bukan retorika. Dalam banyak kesempatan, meski diterpa polemik, ia tetap berdiri di garis yang sama: memastikan masyarakat Maluku Utara merasakan perubahan.
Inspirasi bagi Generasi Baru
Jalan Serly bukan hanya tentang memimpin hari ini, tetapi membangun inspirasi untuk esok. Kehadirannya telah membuka mata banyak perempuan bahwa ruang kepemimpinan bukan milik satu gender. Ia membuktikan bahwa keberanian, empati, dan visi dapat menggerakkan sebuah provinsi ke arah yang lebih baik.
“Saya berharap generasi muda, terutama perempuan Maluku Utara, tidak pernah berhenti bermimpi. Mereka harus berani memberi yang terbaik untuk negeri ini.”
Dan dari perjalanan Serly, kita melihat sebuah pesan: perubahan tidak lahir dari mereka yang menunggu, tetapi dari mereka yang berani mengambil langkah pertama, meski badai menghadang.



















