HALSEL, Jhazirah- Setiap pagi di Desa Dauri, Kecamatan Makian Pulau, anak-anak sekolah berbaris hati-hati menyusuri dasar kali. Di musim kemarau, air surut dan jalur setepak yang dibuat warga tampak aman dilewati. Namun, saat hujan turun, arus deras menghapus lintasan itu, menutup akses menuju Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Halsel) — sekolah terdekat bagi anak-anak Dauri.
Di sanalah ironi itu hidup: desa yang melahirkan beberapa wakil rakyat, tapi tak memiliki satu pun jembatan penghubung.
“Kami sudah lama dijanjikan jembatan. Tapi tiap tahun yang datang cuma janji baru, bukan pembangunan,” ucap Husen Hi Umar, tokoh masyarakat, dengan nada getir.
Warga mengaku sudah berkali-kali membuat setepak di dasar kali, bergotong royong agar anak-anak tetap bisa sekolah. Tapi begitu hujan turun, semua usaha mereka hanyut bersama arus.
“Anak-anak sering pulang menangis karena tidak bisa lewat. Kalau air tinggi, orang tua terpaksa menggendong mereka,” ujar Husen pelan.
Di tengah keterbatasan itu, masyarakat Dauri tetap menaruh harapan. Mereka tak menuntut proyek besar, hanya sebuah jembatan sederhana agar kehidupan bisa berjalan normal.
Jembatan itu mungkin kecil bagi banyak orang, tapi bagi warga Dauri, itu adalah jembatan menuju masa depan — penghubung antara janji politik dan kenyataan yang masih tertinggal.



















