HALSEL, Jhazirah – Setelah sempat terhenti karena krisis keuangan daerah, proyek Pelabuhan Semut di Desa Tuwokona, Halmahera Selatan, akhirnya kembali dikerjakan. Pemerintah daerah menargetkan proyek multiyears senilai Rp58,47 miliar itu selesai pada Desember 2025, meski kondisi fiskal masih menantang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Halsel, Idham Pora, menjelaskan bahwa keterlambatan pekerjaan sebelumnya bukan disebabkan oleh kelalaian rekanan, melainkan akibat keterbatasan dana yang dipicu pemangkasan anggaran daerah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
“Masalah keuangan menjadi kendala utama. Pemotongan anggaran sebesar Rp109 miliar sangat berdampak pada kemampuan daerah membayar termin proyek,” ujar Idham, Senin (10/11).
Menurut Idham, pembayaran kepada kontraktor dilakukan bertahap sesuai progres pekerjaan di lapangan. Hingga kini, Pemda Halsel telah membayarkan setengah dari nilai kontrak melalui APBD Perubahan 2025.
“Kita bayar sesuai prestasi kerja. Pekerjaan harus selesai Desember 2025, tidak ada alasan menunda lagi,” tegasnya.
Proyek Pelabuhan Semut mencakup pembangunan dermaga, terminal, dan pelabuhan speed, sementara pekerjaan landscape dan pagar ditunda karena adanya Contract Change Order (CCO).
Selain Pelabuhan Semut, Pemkab Halsel juga masih memiliki dua proyek multiyears lain yang menyisakan utang, yakni pembangunan jalan dan jembatan di Labuha serta kawasan strategis ekonomi. Total kewajiban Pemda untuk tiga proyek tersebut mencapai Rp28,58 miliar.
“Utang ini akan kita cicil hingga tahun 2026. Tahun ini baru separuh yang bisa dibayar,” kata Idham.
Meski tekanan fiskal masih besar, Pemkab Halsel optimistis proyek-proyek strategis itu dapat diselesaikan tepat waktu agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat.



















