TERNATE, Jhazirah.com – Suasana jelang Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Maluku Utara kian memanas. Agenda penting organisasi yang sedianya digelar dalam waktu dekat ini ternyata bukan lagi soal regenerasi atau kemajuan pengusaha muda, melainkan penuh intrik, siasat politik, dan permainan kepentingan. Dua nama yang muncul sebagai bakal calon ketua umum, Reagen dan Rio C. Pawane, justru menjadi objek tarik-ulur kekuasaan para pihak yang selama ini dianggap merusak tatanan organisasi.
Sejumlah pengurus Badan Pengurus Cabang (BPC) HIPMI se-Kabupaten/Kota mencium jelas aroma permainan terselubung. Mereka menduga tim penanggung jawab atau caretaker yang ditunjuk langsung oleh Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI sudah terang-terangan memihak dan “bermain mata”, memberikan dukungan penuh kepada Rio Pawane yang kini juga menjabat sebagai Wakil Bupati Pulau Morotai.
Peran dua figur kunci dalam tim caretaker, yakni Bahtiar Kadir dan Mohdar Bailusy, menjadi sorotan paling tajam. Keduanya dinilai tidak netral, bahkan berusaha keras “mencuci tangan” dari kegagalan Rio pada Musda sebelumnya yang berakhir buntu dan memicu dualisme kepemimpinan.
“Pada Musda lalu, Rio gagal total karena kesalahan pengelolaan dari mantan pengurus BPD Malut. Mereka gagal mengelola dinamika, malah mengarah ke kekacauan. Nah, sekarang kami menduga kuat mereka menjaminkan nama Rio untuk maju lagi. Tujuannya jelas: ingin mengobati kekalahan dan menutup aib masa lalu,” ungkap salah satu pengurus BPC yang enggan disebutkan namanya.
Tak hanya itu, isu keterlibatan Boy Sangaji yang dikabarkan gencar mendukung Reagen sebagai calon ketua umum, ternyata dinilai bukan bentuk dukungan tulus. BPC membaca langkah itu hanyalah strategi licik “pemecah ombak” semata, demi memuluskan jalan kemenangan Rio di akhir proses.
“Boy seolah-olah ada di kubu Reagen, tapi itu cuma pura-pura. Skenarionya sudah disusun rapi: di detik-detik akhir, Reagen akan diatur mundur atau ditarik, supaya Rio melenggang mulus menang telak. Irisannya sudah terlihat jelas, Bahtiar dan Boy itu tidak mungkin beda pilihan. Jagoan mereka di Munas itu orang yang sama, yaitu Reynaldo yang sekarang pegang posisi Bendum BPP. Semua sudah diatur dari jauh,” tegas sumber tersebut.
Ketegangan makin memuncak saat beredar kabar bahwa perwakilan dari salah satu bakal calon Ketua Umum BPP HIPMI, Ade Jona Prasetyo, akan segera mendarat di Maluku Utara. Kedatangan Ade Jona, yang diketahui merupakan kader dan didukung penuh Partai Gerindra, disebut bertujuan menggalang kekuatan dan dukungan elektoral dari wilayah ini.
Kabar yang makin menguat menyebutkan, Rio Pawane diduga sudah bergerak cepat merapat ke kubu Ade Jona. Langkah ini dinilai bukan lagi urusan organisasi, melainkan kepentingan politik jangka panjang Rio di Pulau Morotai.
“Ade Jona disokong partai besar pemenang Pilpres. Rio pasti membaca peluang emas ini. Dia merapat bukan untuk HIPMI, tapi demi mengamankan masa depan politiknya menuju kursi Bupati Morotai nanti. HIPMI cuma dijadikan pijakan dan kendaraan saja,” tambah pengurus itu.
Kondisi memprihatinkan ini membuat seluruh jajaran BPC sangat prihatin. Mereka menilai, HIPMI Maluku Utara kini sudah kehilangan arah, kehilangan integritas, dan hancur identitasnya akibat terlalu banyak kepentingan luar yang ikut campur. BPP HIPMI pun disayangkan karena terkesan membiarkan konflik berlarut, bahkan memberi mandat kepada orang-orang yang terbukti bermasalah di masa lalu.
“Bahtiar Kadir, Boy Sangaji, dan Mohdar Bailusy adalah tiga serangkai yang sudah terbukti merusak integritas HIPMI Malut. Kalau Musdalub ini tetap diurus dan diatur oleh mereka, jangan harap ada perubahan. Hasilnya pasti makin rusak, makin kacau. Orientasi mereka sudah telanjang: bukan memajukan pengusaha muda, tapi semata-mata demi keuntungan materi dan kekuasaan pribadi,” pungkas pernyataan keras dari BPC HIPMI se-Maluku Utara.



















