Oleh: Abdullah Palias
Di sudut-sudut kampus yang dulu riuh oleh diskusi dan perdebatan, kini suasananya terasa berbeda. Bangku-bangku taman masih terisi, kantin tetap ramai, namun ada yang perlahan menghilang—semangat intelektual yang dulu menjadi denyut nadi kehidupan mahasiswa.
Padahal, kampus sejak lama dikenal sebagai ruang lahirnya pemikiran besar. Di tempat inilah ide-ide kritis tumbuh, keberanian berbicara diasah, dan kesadaran sosial dibentuk. Mahasiswa bukan hanya pembelajar, tetapi juga penjaga nurani publik—mereka yang bersuara ketika ada yang tak beres dalam kehidupan berbangsa.
“Tidak ada kata terlambat,” begitu sebuah ungkapan yang kerap terdengar. Namun, bagi sebagian mahasiswa hari ini, persoalannya bukan soal waktu, melainkan kemauan untuk memulai. Buku-buku yang dulu menjadi sahabat kini mulai ditinggalkan. Sebaliknya, layar ponsel justru menjadi pusat perhatian, menyita waktu dan energi tanpa terasa.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, semangat intelektual seperti mengalami erosi. Diskusi-diskusi mendalam mulai jarang terdengar. Perpustakaan tak lagi menjadi destinasi utama. Kampus pun perlahan bergeser makna—dari ruang pertarungan gagasan menjadi sekadar tempat menjalani rutinitas dan membangun citra diri.
Padahal, sejarah mencatat peran besar mahasiswa dalam perjalanan bangsa. Pada masa-masa krisis, mereka hadir sebagai garda terdepan perubahan. Dengan keberanian dan ketajaman berpikir, mahasiswa mampu menggugah kesadaran kolektif dan mendorong lahirnya keputusan-keputusan besar.
Hari ini, peran itu seolah meredup. Sebagian mahasiswa tampak kehilangan arah, berjalan tanpa visi yang jelas. Hari-hari berlalu tanpa refleksi, tanpa tujuan yang pasti. Kepedulian terhadap isu sosial pun kian menipis, sementara suara kritis semakin jarang terdengar.
Fenomena ini tentu bukan tanpa dampak. Ketika mahasiswa kehilangan jati dirinya, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan. Sebab di pundak merekalah harapan perubahan itu disematkan. Tanpa semangat belajar, tanpa keberanian berpikir kritis, sulit membayangkan lahirnya generasi yang mampu membawa bangsa ke arah yang lebih baik.
Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Selalu ada ruang untuk kembali. Selalu ada kesempatan untuk membangkitkan kesadaran. Kampus masih bisa menjadi rumah bagi gagasan-gagasan besar, selama mahasiswa mau kembali merawat tradisi berpikir.
Mungkin memang benar—tidak ada kata terlambat. Yang ada hanyalah pilihan: tetap terjebak dalam kenyamanan semu, atau bangkit menjadi mahasiswa yang sesungguhnya.
Kalau mau, saya bisa lanjutkan buatkan versi feature yang lebih menyentuh (lebih dramatis dan storytelling kuat) atau versi opini tajam untuk media nasional.




















Mass comment blasting: $10 for 100k comments. All from unique blog domains, zero duplicates. I will provide a full report and guarantee Ahrefs picks them up. Email mailto:helloboy1979@gmail.com for payment info.If you received this, you know Ive got the skills.