HALTENG, Jhazirah.com – Di bawah naungan tenda sederhana yang berdiri tegak di tengah kampung, suasana haru bercampur hangat perlahan menyelimuti hati warga Desa Sibenpopo dan Banemo. Beberapa hari setelah api kemarahan memakan korban dan meretakkan hubungan sosial, hari ini adalah momen di mana air mata dan emosi mulai digantikan oleh dialog dan permohonan maaf.
Warga dari kedua desa kini duduk berdampingan. Raut wajah mereka masih menyisakan kelelahan dan bayang-bayang penyesalan, namun jarak yang sempat terbentang lebar kini perlahan mulai menyempit. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan langkah awal yang berani untuk menyembuhkan luka dan memulihkan kepercayaan yang hilang.
Sentuhan Hati Sang Pemimpin
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, hadir bukan sebagai pejabat yang jauh di atas, melainkan sebagai saudara yang datang memeluk duka. Mengenakan busana putih bersih, ia melangkah turun, menyapa, dan bersalaman dengan hangat. Genggaman tangannya yang erat seolah menyampaikan pesan tanpa kata: “Kami hadir untuk kalian.”
Interaksi manusiawi itu berhasil meluluhkan ketegangan. Wajah-wajah yang semula tegang kini mulai melunak, anggukan kepala dan tatapan mata yang dalam menjadi bahasa persatuan yang paling jujur di tengah suasana yang sarat makna itu.
Kunjungan ini turut didampingi oleh Wakil Gubernur Sarbin Sehe, jajaran Forkopimda, serta Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangaji, menegaskan bahwa seluruh elemen kepemimpinan daerah bersatu padu menjamin keamanan dan kedamaian.
Pesan Damai yang Menusuk Hati
Dalam arahannya, Sherly menyampaikan pesan damai dengan nada yang tegas namun lembut, memohon agar siklus kekerasan dan balas dendam segera diakhiri.
“Tidak boleh saling membalas. Torang samua basudara. Rezeki itu dilancarkan atau tidak, sangat bergantung pada hati kita. Hati itu harus ikhlas, harus memaafkan, tidak boleh ada dendam, dan harus ada kasih,” ucap Sherly menenangkan.
Ia memaklumi bahwa memaafkan bukanlah proses yang instan. Butuh waktu, mungkin berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, untuk benar-benar sembuh. Namun, ia menegaskan bahwa kecepatan pemulihan hidup bergantung pada kerelaan hati.
“Semakin cepat kalian mengikhlaskan, memaafkan, dan menerima, semakin cepat pula kehidupan kalian kembali pulih dan berjalan normal,” tambahnya.
Sherly juga mengingatkan betapa rapuhnya apa yang telah dibangun bertahun-tahun. Hanya dalam hitungan jam, emosi yang tak terkendali dan informasi yang belum tentu benar mampu meluluhlantakkan masa depan yang sudah dirangkai dengan susah payah.
“Sudah lihat apa yang terjadi? Yang dibangun puluhan tahun bisa hilang seketika hanya karena emosi sesaat. Kalau kita saling membalas, masalah tidak akan selesai, justru makin panjang. Yang rugi pada akhirnya adalah kita semua,” tegasnya.
Ia mengajak warga untuk bijak dan dewasa dalam menyikapi setiap masalah.
“Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain lakukan, tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita bereaksi. Jangan menghukum tanpa bukti, dan jangan bertindak hanya karena nafsu amarah,” pesannya.
Rumah Kalian, Urusan Kami
Di akhir pertemuan yang penuh haru itu, Sherly memberikan jaminan kepastian bagi masa depan warga. Pemerintah tidak akan membiarkan warga menderita sendirian.
“Nanti urusan rumah kalian yang rusak, itu menjadi urusan saya dan Pak Bupati. Tenanglah, kita bangun kembali bersama-sama,” janjinya tegas.
Pertemuan di bawah tenda itu kini telah menjadi saksi sejarah. Di sana, luka diakui, dendam diredam, dan harapan baru mulai ditanam kembali. Dari sorot mata warga yang hadir, terpancar satu tekad bulat: mengubur masa lalu yang kelam, dan memilih hidup berdampingan lagi sebagai satu keluarga besar Maluku Utara yang rukun.



















