Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Koleksi

NHM Siapkan Respons Berlapis Hadapi Ancaman Karhutla

×

NHM Siapkan Respons Berlapis Hadapi Ancaman Karhutla

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
https://jhazirah.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.59.03.jpeg

HALUT, Jhazirah— PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) memperkuat sistem kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menerapkan langkah pencegahan dan respons darurat secara terpadu. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau, sekaligus melindungi pekerja, masyarakat, lingkungan, dan keberlangsungan operasional perusahaan.

Melalui pendekatan terencana dan terkoordinasi, NHM menyiapkan sistem penanganan yang melibatkan berbagai departemen, penggunaan teknologi pemantauan, hingga koordinasi dengan instansi pemerintah dan aparat keamanan.

Example 300x600

HSE System Specialist NHM, Andri Prasetyo, mengatakan penanganan karhutla memiliki tantangan tersendiri, terutama karena luasnya wilayah, cuaca terik pada siang hari, akses menuju lokasi yang tidak selalu mudah, serta cepatnya api menyebar.

Menurutnya, karhutla bukan sekadar persoalan kebakaran, tetapi juga dapat menimbulkan dampak berantai terhadap keselamatan dan aktivitas operasional perusahaan.

“Karhutla tidak bisa dipandang hanya sebagai kebakaran biasa. Dalam konteks operasional tambang, dampaknya bisa berantai, mulai dari asap dan menurunnya visibilitas, meningkatnya risiko keselamatan, terganggunya aktivitas kerja, sampai potensi penghentian pekerjaan. Karena itu, kami menyiapkan respons yang terstruktur untuk menghadapinya,” ujar Andri, Jumat (2/10/2026).

Dari sisi pencegahan, NHM membangun dan memelihara buffer zone atau fire break di wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan maupun lahan rawan terbakar. Perusahaan juga membersihkan vegetasi kering dan material yang mudah terbakar di area kritis secara berkala.

Selain itu, pemantauan titik panas (hotspot) dan kondisi cuaca dilakukan secara rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini. NHM juga mengidentifikasi wilayah rawan berdasarkan riwayat kejadian, kondisi vegetasi, akses lokasi, serta faktor cuaca.

Langkah pencegahan lainnya mencakup penyiapan jalur kendaraan pemadam, penyediaan sumber air dan titik pengisian, inspeksi terhadap sumber potensi api dari aktivitas perusahaan, serta peningkatan patroli ketika risiko kebakaran meningkat.

NHM turut melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran kepada pekerja dan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Dalam memperkuat penanganan, perusahaan juga membangun koordinasi dengan kepolisian setempat, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Koordinasi tersebut dilakukan untuk menyampaikan perkembangan kondisi di lapangan, langkah penanganan yang telah dilakukan, serta kebutuhan dukungan tambahan jika diperlukan.

Sementara itu, pada tahap tanggap darurat, Emergency Response Team (ERT) menjadi unsur utama dalam penanganan karhutla. Captain ERT NHM, Hendrick Lesa, menjelaskan bahwa seluruh proses penanganan dilakukan melalui struktur komando tanggap darurat yang terintegrasi.
Manajemen atau Incident Commander bertindak sebagai pengarah utama, sedangkan Command Center menjadi pusat koordinasi dan pengendalian informasi yang dipantau setiap hari pukul 14.00.

“Respons terhadap karhutla harus cepat, tetapi tetap aman. ERT tidak langsung masuk untuk memadamkan api begitu saja, melainkan melakukan assessment terlebih dahulu agar tindakan yang diambil tidak justru menempatkan personel dalam kondisi berbahaya,” kata Hendrick.

Penanganan karhutla melibatkan berbagai departemen, antara lain HSE, Environment, Operation, Maintenance, Security, Klinik, Community Relations, Logistic, dan Management. Setiap bagian memiliki tanggung jawab masing-masing, mulai dari pengambilan keputusan, pengamanan, dukungan logistik, pemantauan lingkungan, hingga komunikasi dengan pihak terkait.

NHM juga menerapkan sistem mitigasi berlapis. Lapisan pertama (first layer) dijalankan ERT sebagai tim respons utama.

Lapisan kedua (second layer) melibatkan ERT Volunteer serta Fire Warden atau Fire Team dari departemen terkait. Sementara lapisan ketiga (third layer) merupakan dukungan tambahan dari sumber daya internal perusahaan untuk memenuhi kebutuhan penanganan di lapangan.

Untuk mendukung deteksi dini, Tim Drone Security dimanfaatkan dalam pemantauan titik api, khususnya di wilayah yang luas dan sulit dijangkau secara langsung. Departemen Civil juga berperan memastikan akses jalan menuju titik api, jalur evakuasi, dan infrastruktur pendukung pemadaman tersedia dengan baik.

NHM menegaskan bahwa seluruh upaya kesiapsiagaan tersebut mengutamakan keselamatan personel serta perlindungan masyarakat dan lingkungan. Setiap kejadian juga menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem penanganan secara berkelanjutan.

Melalui sistem pencegahan, koordinasi, dan respons berlapis tersebut, NHM berharap dapat meminimalkan dampak karhutla sekaligus menjaga keamanan aktivitas operasional tambang di Halmahera Utara.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 300250