TERNATE, Jhazirah.com — Ironi pengelolaan keuangan daerah di Kota Ternate semakin mencolok. Sejak Januari 2026, pungutan atas pemanfaatan aset di tiga terminal angkutan kota terus berlangsung setiap hari. Namun hingga memasuki penghujung triwulan ketiga, penerimaan dari objek tersebut sama sekali tak tercatat dalam realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pertanyaannya sederhana namun berat: jika pungutan masih berjalan, ke mana mengalir uang itu? Mengapa tidak masuk ke kas daerah?
Ketiga terminal itu sepenuhnya milik Pemkot dan berada di bawah pengelolaan Dinas Perhubungan, bukan perorangan. Persoalan ini mencuat tepat saat Pemkot gencar mengumandangkan perlunya menggenjot PAD serta mengoptimalkan setiap potensi pendapatan daerah.
Saat wartawan mengkonfirmasi, Pelaksana Tugas Kepala Dishub Kota Ternate, Moh. Faizal Badaruddin, Ia menyampaikan hal yang justru memperlebar tanda tanya, menyatakan retribusi tersebut telah dihapus.
Ia menyebut jenis retribusi tersebut telah dihapus, sehingga total penarikan PAD yang dikelola Dishub Kota Ternate, 6.602.000.000, miliar. Terdiri dari Parkir Tepi Jalan Umum Rp5 miliar, realisasi Rp993,8 juta atau19,88 persen, Pusat Parkir di Luar Badan Jalan Rp1 miliar, realisasi Rp743,1 juta atau 74,32 persen, Jasa Kepelabuhanan Rp500 juta realisasi Rp280,9 juta atau 56,19 persen, berdasarkan data yang termuat dalam Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) tahun 2026.
Menanggapi hal itu, Ketua DPD Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Ternate, Juslan, menegaskan pernyataan tersebut justru memunculkan keraguan yang lebih dalam.
“Jika retribusi sudah dihapus, atas dasar apa penagihan masih berjalan di lapangan? Siapa yang berwenang menarik uang itu? Dan ke mana seluruh pungutan sejak Januari 2026 disetorkan?” tanyanya tajam.
Aset terminal itu milik daerah, tercatat resmi di Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Ternate. Setiap pemanfaatan wajib memiliki dasar hukum yang jelas, mekanisme pungutan yang sah, serta pencatatan yang transparan tak boleh ada yang lepas dari pantauan.
“Pemerintah Kota Ternate tidak bisa berhenti pada alasan ‘sudah dihapus’. Masyarakat berhak mendapat jawaban,” tegas Juslan.
Ia menyoroti sejumlah pertanyaan mendasar yang harus dijawab:
– Apakah pungutan di terminal itu sah atau tidak?
– Jika tidak sah, mengapa dibiarkan berjalan berbulan-bulan?
– Jika masih sah, mengapa tidak masuk ke kas daerah?
– Siapa yang menarik uang itu dan berapa total yang terkumpul?
“PAD bukan sekadar angka di atas kertas. Setiap rupiah yang dipungut atas nama daerah wajib masuk ke kas daerah dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Jangan sampai rakyat dipungut, namun uangnya hilang tanpa jejak. Ini bukan sekadar kelalaian, persoalan ini harus segera dibuka secara terang. Ke mana perginya uang retribusi tiga terminal itu? Pemkot Ternate wajib menjelaskan.




















Barton lesbian kissGirls gone wild xxx clipsAustralian hairy girlBib boob gamesWild interracial hot wivesGay tai chi vietnamFree mature pegsXxx sexting photos xnxx First time lesbian videosKaras
fuckingSexy teen brunet on camChuck liddell training nakedBall licker asianAgua dulce
bikiniDefloration amateur videoYoung teen sex free movies https://hiporn.cc Buddhist monks sexual abuseMetal duct
roof penetrationSell mature treesSleeping girl rimjob lesbian asleepRealy tortur sex video painTeen fucking black dickVintage racers stratford ctCum on sarah palin’s faceHockey team breast exam videoDad
very young son sex xnxx The world’s largest vaginaAlessandra v
dc escortRed pubic hairyKiss my ass iconsGrants for adult distance educationSex brain waves syncJerk off
on flipflop fetishBilly joel vintage innocent man shirtSluts with tatoosElizabeth shu
nudeBlack lesbians metacafeYoung hot threesome